Tugas Bahasa
Indonesia
KARYA TULIS
MENUMBUHKAN MINAT BACA PADA
ANAK-ANAK DAN REMAJA
Disusun Oleh :
KELAS : XI IPA 1
NISN : 9940851168
S M A A N G K A S A
Tahun Ajaran 2010 / 2011
Kata Pengantar
Puji dan Syukur kita panjatkan
atas kehadirat Allah Yang Maha Kuasa karena atas berkat Rahmat dan Karunia-Nya
lah sehingga saya bisa menyelesaikan karya tulis ini dengan baik dan tanpa ada
kesulitan yang berarti.
Di dalam tulisan ini, saya ingin
memberikan gambaran tentang masalah bagaimana menumbuhkan minat membaca bagi para
anak-anak maupun remaja. karena sebagaimana kita ketahui, minat para anak –
anak maupun remaja dalam bidang membaca sangat kurang dan dapat dikatakan
sungguh memprihatinkan.
Demikian karya tulis ini saya
buat, mudah-mudahan apa yang disampaikan pada tulisan ini dapat bermanfaat bagi
kita semua. Lebih
Maros, April 2011
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Membaca sangat penting bagi setiap orang. Karena hal itu
akan mampu meningkatkan pengetahuan dan wawasan bagi mereka yang melakukannya.
Membaca merupakan aktivitas yang penting bagi manusia. Dengan membaca, kita
dapat memperoleh pengetahuan yang sangat luas dan ilmu yang bermanfaat. Orang
bijak mengatakan bahwa dengan membaca kita dapat menjelajah ke seantero dunia
dan dengan membaca kita dapat membuka jendela dunia. Oleh karena itu, kita
harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk membaca.
Namun kegiatan membaca ini belum
banyak dilakukan, khususnya remaja. Hal ini memang menjadi keprihatinan banyak
pihak, baik itu pendidik, orangtua maupun pemerintah. Upaya untuk membangun
kesadaran masyarakat untuk gemar membaca telah lama dilakukan dengan banyak
cara.
Berdasarkan hasil survei lembaga
internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, United Nation Education
Society and Cultural Organization (UNESCO), minat baca penduduk Indonesia jauh
di bawah negara-negara Asia. Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari
negara-negara maju yang memiliki tradisi membaca cukup tinggi.
Jepang, Amerika, Jerman dan negara
maju lainnya dengan kebiasaan masyarakat membaca buku begitu pesat
peradabannya. Masyarakat negara tersebut sudah menjadikan buku sebagai sahabat
yang menemani mereka ke manapun mereka pergi. Kadang kita lihat buku di tangan
mereka kala antri membeli karcis, menunggu kereta, di dalam bus, di bandara,
kedai kopi dan tempat-tempat lain. Di Indonesia, kebiasaan ini belum tampak.
Di zaman sekarang ini, membaca buku dilakukan
apabila membutuhkan sumber untuk mengerjakan tugas. Fenomena seperti ini juga
sering terjadi saat seorang mahasiswa sedang menyusun tugas akhir atau skripsi. Memang budaya membaca kini sudah tidak lagi menjadi kebutuhan bagi generasi
muda. Hal itu disebabkan karena kurangnya kontrol keluarga dan masyarakat
terhadap anak dalam pemanfaatan teknologi sekarang ini
Membaca merupakan sebuah kebutuhan hidup, maka kita harus
dapat memotivasi diri untuk membaca sejak dini serta memupuk keinginan kita
untuk membaca, sehingga dalam kita akan muncul kehendak atau keinginan sendiri
untuk membaca. Orang tua dan guru harus mampu menumbuhkan minat baca anak dan
sekaligus dapat mengembangkannya. Dengan kata lain, anak harus mampu menyerap
atau memahami apa yang dibacanya, sehingga apa yang dibacanya dapat memberi
manfaat dalam kehidupannya. Sebagai implikasinya anak akan mampu menuliskan dan
menceritakan kembali apa yang dibacanya. Lebih jauh, anak akan mampu menciptakan
suatu dunia baru dalam khayalannya dan pada gilirannya akan mampu untuk
mengarang.
Masyarakat Indonesia harus kritis
terhadap kondisi ini. Kita harus meningkatkan minat membaca masyarakat,
khususnya anak-anak dan remaja.
B.
Rumusan
Masalah
Permasalahan di atas sangat rumit dan kompleks, sehingga perlu
dipahami dengan membuat pertanyaan sebagai berikut:
a) Bagaimana cara memperkenalkan budaya membaca sejak dini?
b) Mengapa kurangnya minat baca
anak-anak dan remaja dan bagaimana cara mengatasinya?
c) Apa dampak yang ditimbulkan apabila
anak-anak dan remaja malas membaca?
C.
Metode
Penulisan
Karya Tulis ini dibuat dengan menggunakan metode kepustakaan
atau berdasarkan informasi dari berbagai sumber baik buku-buku maupun situs-situs
di internet yang relevan dengan judul yang akan dibahas.
D.
Tujuan
Penulisan
Tujuan dari pembuatan Karya Tulis
ini, agar pembaca dapat mengetahui masalah yang berkaitan dengan kurangnya
minat membaca di kalangan anak-anak dan remaja Indonesia. Karya Tulis ini
menjelaskan beberapa pokok-pokok permasalahan yang dapat membantu kita,
khususnya dalam pengembangan minat membaca.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Memperkenalkan
Budaya Membaca Sejak Dini
Orang tua
berperan aktif untuk membantu anak mereka yang masih kecil untuk menguasai
kemampuan membaca. Hal ini bisa dimulai dengan cara sederhana dan membuatnya
sebagai bagian dari rutinitas dalam kehidupan seorang anak. Dengan demikian dia
dapat menguasai kemampuan membaca bahkan sebelum memasuki sekolah.
Saat yang
paling tepat untuk memulai adalah sedini mungkin. Saat bayi lahir, cobalah
mulai berbicara kepada bayi Anda. Ingatlah bahwa ia sedang belajar suatu
"bahasa asing" sehingga membutuhkan semua bantuan yang dapat Anda
berikan. Kata-kata penuh kasih sayang serta semua komunikasi lisan tidak hanya
meyakinkan rasa sayang Anda kepada sang bayi, namun juga secara tetap tentu
memperkenalkan kepadanya bahasa asing yang sedang ia pelajari.
Proses
pertama, sang bayi hanya akan mempelajari dari suara saja dan ini bisa
berlangsung sejak kandungan. Kemudian ketika ia mulai bisa melihat lingkungan
sekelilingnya, Anda dapat menggunakan alat bantu visual misalnya mainan yang
dapat membuatnya belajar sekaligus bisa bermain. Namun yang terbaik, Anda dapat
menggunakan alat bantu yang membantunya belajar membaca sekaligus membuatnya
terhibur.
Bagi anak
yang usianya masih muda, tidak sulit bagi mereka untuk menerima segala apa yang
kita ajarkan. Mulailah dengan menunjukkan satu atau dua huruf yang berwarna
cerah. Perangkat seperti ini banyak tersedia di toko mainan anak. Gunakan
huruf-huruf ini sebagai mainan bagi sang bayi, namun Anda dapat sedikit
menekankan kepada sang bayi dengan menyebutkan nama huruf tersebut kepadanya
setiap kali ia mengamati huruf tersebut. Tambahlah satu huruf secara per lahan
sambil ia bertumbuh. Seraya waktu berjalan, ia akan mulai dapat
mengidentifikasi banyak huruf meski belum mampu mengucapkannya. Setelah sang
anak mengetahui semua huruf, maka tahap selanjutnya adalah memperkenalkan
huruf-huruf tersebut pada urutan yang tepat. Di Indonesia kebiasaan membaca
adalah dari kiri ke kanan. Maka susunlah huruf-huruf tersebut dari kiri ke
kanan. Ketika ia sudah mulai berbicara, mintalah ia menyebutkan huruf-huruf
tersebut dengan urutan dari kiri ke kanan.
Setelah
seorang anak mengenali semua huruf, mulailah dengan mulai mengajarkan mengenal
kata. Salah satu cara terbaik adalah dengan memperkenalkan namanya. Misalnya
dengan menyusun huruf-huruf yang membentuk namanya. Lalu orang tua mengucapkan
susunan huruf-huruf tersebut serta namanya. Ketika ia mulai lancar mengucapkan
namanya, tambahkan kata lain yang mudah dimengerti seperti papa, mama, atau
kata lainnya. Lakukan semua hal tersebut dalam kondisi santai dan juga dalam
suasana bermain.
Selain itu,
Anda juga dapat membacakan sebuah cerita dalam buku yang memiliki gambar dengan
warna yang cerah. Sang anak akan lebih terbiasa membaca jika Anda sering
membacakan buku yang menarik kepada anak Anda yang masih kecil. Dengan demikian
ia akan semakin mengerti bahwa huruf-huruf tersusun menjadi kata yang memiliki
ucapan dan arti tersendiri.
Agar kegiatan
ini tidak membosankan, hendaknya saat membacakan cerita dilakukan dengan
seekspresif mungkin. Gunakan intonasi suara sesuai karakter tokoh yang ada.
Anda juga dapat menggunakan bahasa tubuh yang sesuai aatau melakukan efek drama
seperti tertawa, berbisik, menjerit atau merengek untuk membuat anak
berimajinasi.
Selera anak
bisa berbeda-beda. Untuk itu, bila Anda hendak membeli sebuah buku, libatkan
anak untuk memilih buku yang disukainya. Ini tentu dapat dilakukan ketika anak
Anda sudah mengerti dan cukup umur untuk menentukan pilihannya. Selanjutnya,
tugas Anda sebagai orangtua adalah menyeleksi buku yang dipilih anak apakah
sesuai dengan usianya.
Waktu yang
paling baik untuk membacakan buku adalah saat anak menjelang tidur. Sisihkan 15
menit sampai 20 menit untuk mebacakannya karena pada saat inilah daya ingat
anak semakin kuat.
Buatlah
sebisa mungkin mereka mengenal dan akrab dengan buku. Jadi, apabila sejak kecil
anak-anak sudah mengenal buku, maka besar kemungkinan mereka akan selalu akrab
dengan buku saat mereka remaja hingga dewasa.
B. Kurangnya Minat Baca Anak-Anak Dan Remaja Indonesia
serta Cara Mengatasinya
Membaca
merupakan suatu kegiatan yang dapat menambah wawasan dan memperluas cakrawala
kita. Membuka sebuah buku sama ibarat kita membuka jendela. Jika kita membuka
jendela, kita dapat melihat semua kejadian yang ada di luar kita. Begitu juga
jika kita membuka suatu buku. Kita juga dapat melihat hal-hal nyata yang
terjadi di luar.
Kita
tidak harus pergi ke Italia hanya untuk mengetahui dan melihat bagaimana
menakjubkannya Menara Pisa atau pergi ke Timur Tengah hanya untuk mengetahui
peperangan dan konflik yang sedang berlangsung. Hal tersebut dapat kita lakukan
hanya dengan membaca.
Tapi
nyatanya, dewasa ini terlihat adanya kecendrungan menurunnya minat baca pada
anak-anak dan remaja di Indonesia. Hal ini terlihat sangat jelas. Kita bisa
melihat perbedaan bagaimana antusiasnya anak-anak jika meminta mainan baru atau
CD Playstation terkini kepada orang tuanya dibandingakan dengan jika meminta
sebuah buku. Atau para remaja yang lebih suka ‘ngeceng’ di mall atau ‘ngerumpi’
di cafe ketimbang meluangkan sedikit waktu untuk mengunjungi perpustakaan.
Di
negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Jepang, membaca bukanlah suatu
kewajiban sulit bagi para anak-anak dan remaja di sana. Membaca buku sudah
merupakan suatu kebiasaan. Mereka melakukan kegiatan membaca dimana saja, tidak
hanya di sekolah atau di perpustakaan. Tetapi juga di taman, café, bahkan
bis kota. Sebaliknya hal tersebut akan terlihat janggal jika dilakukan disini,
karena masyarakat kita masih terlalu peka dalam menangapi sindiran-sindiran
seperti ‘sok rajin’ jika terlihat membaca di tempat publik. Memang,
kadang-kadang kita bisa melihat para pelajar atau mahasiswa yang membaca buku
di bis kota dalam perjalanan ke sekolah atau kampus. Tapi biasanya hal itu dilakukan pada saat musim ujian, hanya
untuk mengejar ketinggalan materi bacaan yang selama ini dilupakan.
Sebagai
contoh, para penggemar Harry Potter di Amerika dan Inggris datang
berbondong-bondong beberapa jam, jauh sebelum waktu buku tersebut diluncurkan.
Toko-toko buku dipenuhi oleh anak-anak, remaja, orang tua yang sangat berhasrat
untuk segera mengetahui nasib penyihir cilik ciptaan JK Rowling tersebut. Dan
ada juga orang tua yang mengizinkan anak-anak mereka bolos sekolah keesokan
harinya hanya supaya si anak bisa membaca buku tersebut. Begitu antusiasnya
anak-anak membaca buku tersebut, sehingga kita sampai mendengar adanya rumor
“syndrome Harry Potter” melanda anak-anak di dunia.
Sayang
sekali, di negara kita ini, hanya segelintir orang saja yang menanggapi
terbitnya buku ini dengan antusias, dibandingkan dengan populasi masyarakat
Indonesia. Meskipun, buku ini dibilang sangat laris, tapi jika dibandingkan
dengan jumpah populasi di Indonesia, paling-paling hanya segelintir orang saja
yang mengetahui kapan tepatnya tanggal dan waktu terbit buku yang sudah menjadi
best seller ini, bahkan sebelum buku tersebut selesai ditulis.
Tentunya hal ini mengundang pertanyaan bagi kita
semua. Mengapa anak-anak di negara maju memiliki minat baca
yang lebih besar dibandingkan dengan anak-anak Indonesia? Jawabannya, adalah
karena tradisi membaca sudah menjadi darah daging bagi anak-anak yang tinggal
di negara maju. Mereka punya kebiasaan setiap minggu pergi ke perpustakaan
untuk meminjam beberapa buku, dan memberi target dalam satu bulan berapa banyak
buku yang sudah mereka baca.
Selain
itu, banyaknya jumlah buku yang tersedia, dan dengan adanya perpustakaan dan
book club dimana-mana sehingga memudahkan anak-anak untuk
memperoleh buku yang mereka inginkan. Bahkan, pada saat liburan musim panas,
terdapat suatu camp yang diperuntukkan bagi anak-anak dengan fokus kegiatan
utama selama camp tersebut adalah membaca.
Kondisi sebaliknya malah kita dapati di Indonesia.
Perpustakaan sangat jarang, dan buku – buku yang disediakan juga tidak lengkap.
Ada kalanya disaat seseorang sangat menginginkan sebuah buku, tetapi dia tidak
dapat menemukannya dikarenakan terbatasnya jumlah buku tersebut. Hal ini
membuat munculnya rasa enggan untuk membaca, karena adanya bayangan buku
tersebut tak akan mereka dapatkan. Faktor uang juga menjadi masalah. Tingginya
harga buku di Indonesia mengakibatkan buku-buku hanya dapat dinikmati oleh
orang-orang yang memiliki uang lebih.
Keluarga
juga memiliki pengaruh besar terhadap minat baca seorang anak. Seperti yang
saya katakan diatas, faktor uang adalah masalah. Tetapi itu tidak sepenuhnya
menjadi sebab utama rendahnya minat baca. Disekitar kita banyak kita jumpai
anak orang-orang berada, dimana di kamarnya terdapat koleksi boneka Barbie yang
sangat lengkap atau satu lemari penuh koleksi CD playstation, tetapi tidak
mengetahui pengarang-pengarang buku anak terkenal seperti JK Rowling atau
penulis legendaris Enid Blyton.
Kurangnya minat baca anak-anak dan remaja disebabkan oleh
beberapa faktor, seperti kurangnya daya beli dan kurangnya ketersediaan
buku-buku bacaan umum serta pelajaran yang menarik untuk dibaca. Begitu juga,
mereka lebih suka menonton TV, VCD, bermain game, atau menghabiskan waktu-waktu
mereka dengan permainan atau kegiatan yang tidak bermanfaat, bukan membaca.
Beberapa faktor di atas, yakni faktor kemiskinan dan faktor
kurangnya ketertarikan anak-anak dan remaja dengan buku, merupakan alasan utama
agar masyarakat dan pemerintah harus bersikap lebih kritis terhadap masalah
ini.
Peran
serta orang tua sangat penting dalam membentuk karakteristik dan minat
baca anak. Sebagai orang tua, kita tidak dapat mengharapkan anak-anak akan suka
membaca jika kita sendiri tidak pernah membuka buku sama sekali. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan para orang tua,
guru, dan pemerintah untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca pada anak.
1. Membiasakan memberi hadiah berupa materi bacaan seperti
buku dan majalah. Hal ini tentunya lebih baik ketimbang memberi hadiah game,
atau mainan lainnya kepada anak jika mereka membuat suatu prestasi.
2.
Biasakan untuk mengunjungi toko buku dan
perpustakaan setidaknya sebulan sekali.
3.
Sisihkan waktu untuk membaca setiap hari bersama keluarga,
meskipun hanya 15 – 30 menit.
4. Diskusikan apa-apa saja apa yang sudah dibaca anak-anak,
dan berikan saran-saran terhadap apa-apa saja yang ingin mereka ketahui.
5. Faktor
yang cukup mendukung kurangya anak-anak dan remaja yang gemar membaca yakni
kemiskinan. Banyak dari mereka yang tidak mampu membeli buku. Untuk itu,
pemerintah harus menyediaan buku-buku gratis bagi mereka yang kurang mampu.
6. Bagi
para pendidik, buatlah suatu ajang perlombaan yang hadiahnya menarik, sehingga
banyak yang ingin menjadi peserta. Lombanya bisa berupa cerdas cermat, lomba mengarang,
menulis puisi, atau apa saja. Setidaknya lomba itu dapat membuat kita harus belajar
dan mencari informasi dari buku.
Dengan beberapa cara
tersebut, kita semua berharap sedikit demi sedikit minat untuk membaca akan
timbul dengan sendirinya. Maka dari itu, sebagai generasi muda yang turut
menentukan masa depan bangsa, maka mulailah dari sekarang untuk menikmati
kegiatan membaca. Cobalah dengan mengunjungi toko buku setiap kali pergi ke
mall. Kita juga meluangkan waktu duduk di perpustakaan. Memang tidak mudah
untuk merubah suatu kebiasaan. Tetapi dengan usaha yang sungguh-sungguh, tidak
ada hal yang tidak mungkin kita lakukan.
C.
Dampak yang
Ditimbulkan Apabila Anak-Anak dan Remaja Malas Membaca
Membaca itu
sebenarnya merupakan kebutuhan bagi siswa sekolah, baik SD, SLTP, SMA, atau
Perguruan Tinggi. Untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah saja, mau tidak mau
kita harus membaca. Apalagi kalau kita ingin menjadi siswa yang cerdas,
kuncinya adalah dengan membaca. Sebenarnya rajin membaca itu sangat banyak
manfaatnya. Tidak apalah kalau kita dijuluki dengan istilah “kutu buku”. Untuk
itu, bagaimana pun caranya budaya membaca harus selalu ditanamkan dalam diri
kita masing-masing.
Apa jadinya
negeri ini apabila generasi mudanya malas membaca? Tentu sangat berakibat untuk
kita, baik sekarang, maupun waktu yang akan datang. Khusus di sekolah,
kemalasan kita membaca buku akan sangat berdampak pada prestasi kita. Secara
otomatis nilai kita akan jelek, karena setiap diberi tugas atau setiap ulangan
kita kurang membaca sehingga tidak mampu menjawab semua tugas dan ulangan kita
dengan benar. Tentu kita akan menjadi siswa yang paling buruk di kelas.
Bagaimana perasaan orag tua kita melihat anaknya seperti itu. Mereka akan
sangat kecewa. Sia-sialah pengorbanan mereka membanting tulang siang dan malam
hanya untuk mencari uang agar kita dapat terus bersekolah.
Di dalam
kehidupan bermasyarakat, kita tentu harus sering-sering membaca apabila kita
ingin mengetahui perkembangan zaman. Memang kita juga bisa memperoleh informasi
dari televisi atau radio. Tapi seiring dengan era globalisasi, TV sudah tidak
lagi sepenuhnya mendidik. Kebanyakan acara-acara yang ada seperti gossip
selebriti, film kartun, sinetron, atau bahkan film-film yang tergolong negatif.
Jadi hanya sedikit dari mereka yang menggunakan TV sebagai sarana informasi.
Untuk itu lebih efisien dengan membaca buku.
Sebagai
generasi penerus bangsa dan calon pemimpin negeri ini, kita harus memiliki
wawasan dan pengetahuan yang luas. Jika kita kurang membaca, maka kita akan
ketinggala informasi-informasi baru. Kita mungkin saja dijuluki kuper, karena
tidak mengetahui hal-hal apa saja yang telah terjadi dalam negeri atau bahkan
seputar dunia. Bagaimana nasib negeri ini jika generasi mudanya seperti itu?
Tentu negeri ini akan menjadi negeri yang terbelakang dalam bidang akademiknya.
Bagaimana Negara ini bisa maju jika kondisinya terus seperti ini.
|
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1.
Budaya membaca harus ditanamkan dan diperkenalkan sejak
usia yang masih sangat dini.
2. Beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya minat baca
anak-anak dan remaja, yakni keterbatasan ekonomi dan banyaknya diantara mereka
yang lebih senang menonton TV atau VCD. Dalam hal ini, Guru dan orang tua
berperan untuk mengawasi mereka agar lebih rutin membaca. Sedangkan pemerintah
dapat membantu dengan pemberian subsidi buku gratis.
3.
Kurangya minat membaca di kalangan anak-anak dan remaja
akan berakibat buruk bagi prestasi dan
nilai-nilai mereka di sekolah.
B.
Saran
Berdasarkan simpulan di atas, dapat dikemukakan saran sebagai berikut:
1.
Orang tua harus menanamkan budaya membaca pada
anak-anaknya mulai dari usia dini.
2. Untuk mengatasi kurangya minat membaca, guru dan orang
tua maupun pemerintah harus bekerjasama dalam mengawasi anak-anak dan remaja.
3.
Kita harus lebih giat membaca agar memperoleh nilai dan
prestasi yang baik di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Bambang Kaswanti, Purwo,
2000. Menumbuhkan Minat Sastra pada Anak
dalam
Kajian Serba Linguistik. Jakarta: Atma Jaya dan Gunung Mulia.
Hidayat,
Rahayu, 1989. Pengetesan Kemampuan Membaca Secara Komunikatif. Jakarta:
Perpustakaan Nasional.
Http://novi080.student.umm.ac.id/2010/02/05/pentingnya-membaca/.
Nurhadi,
1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung:
CV Sinar Baru.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar