My Mood's Note


Minggu, 13 November 2011

Contoh Karya Tulis


Tugas Bahasa Indonesia
KARYA TULIS
MENUMBUHKAN MINAT BACA PADA
ANAK-ANAK DAN REMAJA
     


                    Disusun Oleh :

                                NAMA    : S U K M A 
                                KELAS     : XI IPA 1
                                NISN      : 9940851168


S M A  A N G K A S A
Tahun Ajaran 2010 / 2011





Kata Pengantar

Puji dan Syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah Yang Maha Kuasa karena atas berkat Rahmat dan Karunia-Nya lah sehingga saya bisa menyelesaikan karya tulis ini dengan baik dan tanpa ada kesulitan yang berarti.

Di dalam tulisan ini, saya ingin memberikan gambaran  tentang masalah  bagaimana menumbuhkan minat membaca bagi para anak-anak maupun remaja. karena sebagaimana kita ketahui, minat para anak – anak maupun remaja dalam bidang membaca sangat kurang dan dapat dikatakan sungguh memprihatinkan.

Demikian karya tulis ini saya buat, mudah-mudahan apa yang disampaikan pada tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Lebih


Maros,   April 2011 


Penulis




BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Membaca sangat penting bagi setiap orang. Karena hal itu akan mampu meningkatkan pengetahuan dan wawasan bagi mereka yang melakukannya. Membaca merupakan aktivitas yang penting bagi manusia. Dengan membaca, kita dapat memperoleh pengetahuan yang sangat luas dan ilmu yang bermanfaat. Orang bijak mengatakan bahwa dengan membaca kita dapat menjelajah ke seantero dunia dan dengan membaca kita dapat membuka jendela dunia. Oleh karena itu, kita harus memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk membaca.

Namun kegiatan membaca ini belum banyak dilakukan, khususnya remaja. Hal ini memang menjadi keprihatinan banyak pihak, baik itu pendidik, orangtua maupun pemerintah. Upaya untuk membangun kesadaran masyarakat untuk gemar membaca telah lama dilakukan dengan banyak cara.

Berdasarkan hasil survei lembaga internasional yang bergerak dalam bidang pendidikan, United Nation Education Society and Cultural Organization (UNESCO), minat baca penduduk Indonesia jauh di bawah negara-negara Asia. Indonesia tampaknya harus banyak belajar dari negara-negara maju yang memiliki tradisi membaca cukup tinggi.

Jepang, Amerika, Jerman dan negara maju lainnya dengan kebiasaan masyarakat membaca buku begitu pesat peradabannya. Masyarakat negara tersebut sudah menjadikan buku sebagai sahabat yang menemani mereka ke manapun mereka pergi. Kadang kita lihat buku di tangan mereka kala antri membeli karcis, menunggu kereta, di dalam bus, di bandara, kedai kopi dan tempat-tempat lain. Di Indonesia, kebiasaan ini belum tampak.

Di zaman sekarang ini, membaca buku dilakukan apabila membutuhkan sumber untuk mengerjakan tugas. Fenomena seperti ini juga sering terjadi saat seorang mahasiswa sedang menyusun tugas akhir atau skripsi. Memang budaya membaca kini sudah tidak lagi menjadi kebutuhan bagi generasi muda. Hal itu disebabkan karena kurangnya kontrol keluarga dan masyarakat terhadap anak dalam pemanfaatan teknologi sekarang ini

Membaca merupakan sebuah kebutuhan hidup, maka kita harus dapat memotivasi diri untuk membaca sejak dini serta memupuk keinginan kita untuk membaca, sehingga dalam kita akan muncul kehendak atau keinginan sendiri untuk membaca. Orang tua dan guru harus mampu menumbuhkan minat baca anak dan sekaligus dapat mengembangkannya. Dengan kata lain, anak harus mampu menyerap atau memahami apa yang dibacanya, sehingga apa yang dibacanya dapat memberi manfaat dalam kehidupannya. Sebagai implikasinya anak akan mampu menuliskan dan menceritakan kembali apa yang dibacanya. Lebih jauh, anak akan mampu menciptakan suatu dunia baru dalam khayalannya dan pada gilirannya akan mampu untuk mengarang.

Masyarakat Indonesia harus kritis terhadap kondisi ini. Kita harus meningkatkan minat membaca masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja. 

B.     Rumusan Masalah
Permasalahan di atas sangat rumit dan kompleks, sehingga perlu dipahami dengan membuat pertanyaan sebagai berikut:

a)      Bagaimana cara memperkenalkan  budaya membaca sejak  dini?
b)      Mengapa kurangnya minat baca anak-anak dan remaja dan bagaimana cara mengatasinya?
c)      Apa dampak yang ditimbulkan apabila anak-anak dan remaja malas membaca?

C.    Metode Penulisan
Karya Tulis ini dibuat dengan menggunakan metode kepustakaan atau berdasarkan informasi dari berbagai sumber baik buku-buku maupun situs-situs di internet yang relevan dengan judul yang akan dibahas.

D.    Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembuatan Karya Tulis ini, agar pembaca dapat mengetahui masalah yang berkaitan dengan kurangnya minat membaca di kalangan anak-anak dan remaja Indonesia. Karya Tulis ini menjelaskan beberapa pokok-pokok permasalahan yang dapat membantu kita, khususnya dalam pengembangan minat membaca.


  
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Memperkenalkan Budaya Membaca Sejak Dini
Orang tua berperan aktif untuk membantu anak mereka yang masih kecil untuk menguasai kemampuan membaca. Hal ini bisa dimulai dengan cara sederhana dan membuatnya sebagai bagian dari rutinitas dalam kehidupan seorang anak. Dengan demikian dia dapat menguasai kemampuan membaca bahkan sebelum memasuki sekolah.

Saat yang paling tepat untuk memulai adalah sedini mungkin. Saat bayi lahir, cobalah mulai berbicara kepada bayi Anda. Ingatlah bahwa ia sedang belajar suatu "bahasa asing" sehingga membutuhkan semua bantuan yang dapat Anda berikan. Kata-kata penuh kasih sayang serta semua komunikasi lisan tidak hanya meyakinkan rasa sayang Anda kepada sang bayi, namun juga secara tetap tentu memperkenalkan kepadanya bahasa asing yang sedang ia pelajari.

Proses pertama, sang bayi hanya akan mempelajari dari suara saja dan ini bisa berlangsung sejak kandungan. Kemudian ketika ia mulai bisa melihat lingkungan sekelilingnya, Anda dapat menggunakan alat bantu visual misalnya mainan yang dapat membuatnya belajar sekaligus bisa bermain. Namun yang terbaik, Anda dapat menggunakan alat bantu yang membantunya belajar membaca sekaligus membuatnya terhibur.

Bagi anak yang usianya masih muda, tidak sulit bagi mereka untuk menerima segala apa yang kita ajarkan. Mulailah dengan menunjukkan satu atau dua huruf yang berwarna cerah. Perangkat seperti ini banyak tersedia di toko mainan anak. Gunakan huruf-huruf ini sebagai mainan bagi sang bayi, namun Anda dapat sedikit menekankan kepada sang bayi dengan menyebutkan nama huruf tersebut kepadanya setiap kali ia mengamati huruf tersebut. Tambahlah satu huruf secara per lahan sambil ia bertumbuh. Seraya waktu berjalan, ia akan mulai dapat mengidentifikasi banyak huruf meski belum mampu mengucapkannya. Setelah sang anak mengetahui semua huruf, maka tahap selanjutnya adalah memperkenalkan huruf-huruf tersebut pada urutan yang tepat. Di Indonesia kebiasaan membaca adalah dari kiri ke kanan. Maka susunlah huruf-huruf tersebut dari kiri ke kanan. Ketika ia sudah mulai berbicara, mintalah ia menyebutkan huruf-huruf tersebut dengan urutan dari kiri ke kanan.

Setelah seorang anak mengenali semua huruf, mulailah dengan mulai mengajarkan mengenal kata. Salah satu cara terbaik adalah dengan memperkenalkan namanya. Misalnya dengan menyusun huruf-huruf yang membentuk namanya. Lalu orang tua mengucapkan susunan huruf-huruf tersebut serta namanya. Ketika ia mulai lancar mengucapkan namanya, tambahkan kata lain yang mudah dimengerti seperti papa, mama, atau kata lainnya. Lakukan semua hal tersebut dalam kondisi santai dan juga dalam suasana bermain.
Selain itu, Anda juga dapat membacakan sebuah cerita dalam buku yang memiliki gambar dengan warna yang cerah. Sang anak akan lebih terbiasa membaca jika Anda sering membacakan buku yang menarik kepada anak Anda yang masih kecil. Dengan demikian ia akan semakin mengerti bahwa huruf-huruf tersusun menjadi kata yang memiliki ucapan dan arti tersendiri.

Agar kegiatan ini tidak membosankan, hendaknya saat membacakan cerita dilakukan dengan seekspresif mungkin. Gunakan intonasi suara sesuai karakter tokoh yang ada. Anda juga dapat menggunakan bahasa tubuh yang sesuai aatau melakukan efek drama seperti tertawa, berbisik, menjerit atau merengek untuk membuat anak berimajinasi.

Selera anak bisa berbeda-beda. Untuk itu, bila Anda hendak membeli sebuah buku, libatkan anak untuk memilih buku yang disukainya. Ini tentu dapat dilakukan ketika anak Anda sudah mengerti dan cukup umur untuk menentukan pilihannya. Selanjutnya, tugas Anda sebagai orangtua adalah menyeleksi buku yang dipilih anak apakah sesuai dengan usianya.

Waktu yang paling baik untuk membacakan buku adalah saat anak menjelang tidur. Sisihkan 15 menit sampai 20 menit untuk mebacakannya karena pada saat inilah daya ingat anak semakin kuat.
Buatlah sebisa mungkin mereka mengenal dan akrab dengan buku. Jadi, apabila sejak kecil anak-anak sudah mengenal buku, maka besar kemungkinan mereka akan selalu akrab dengan buku saat mereka remaja hingga dewasa.

B.     Kurangnya Minat Baca Anak-Anak Dan Remaja Indonesia serta Cara Mengatasinya
Membaca merupakan suatu kegiatan yang dapat menambah wawasan dan memperluas cakrawala kita. Membuka sebuah buku sama ibarat kita membuka jendela. Jika kita membuka jendela, kita dapat melihat semua kejadian yang ada di luar kita. Begitu juga jika kita membuka suatu buku. Kita juga dapat melihat hal-hal nyata yang terjadi di luar.

Kita tidak harus pergi ke  Italia hanya untuk mengetahui dan melihat bagaimana menakjubkannya Menara Pisa atau pergi ke Timur Tengah hanya untuk mengetahui peperangan dan konflik yang sedang berlangsung. Hal tersebut dapat kita lakukan hanya dengan membaca.  

Tapi nyatanya, dewasa ini terlihat adanya kecendrungan menurunnya minat baca pada anak-anak dan remaja di Indonesia. Hal ini terlihat sangat jelas. Kita bisa melihat perbedaan bagaimana antusiasnya anak-anak jika meminta mainan baru atau CD Playstation terkini kepada orang tuanya dibandingakan dengan jika meminta sebuah buku. Atau para remaja yang lebih suka ‘ngeceng’ di mall atau ‘ngerumpi’ di cafe ketimbang meluangkan sedikit waktu untuk mengunjungi perpustakaan. 

Di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Jepang, membaca bukanlah suatu kewajiban sulit bagi para anak-anak dan remaja di sana. Membaca buku sudah merupakan suatu kebiasaan. Mereka melakukan kegiatan membaca dimana saja, tidak hanya di sekolah atau di perpustakaan. Tetapi juga di taman, café,  bahkan bis kota. Sebaliknya hal tersebut akan terlihat janggal jika dilakukan disini, karena masyarakat kita masih terlalu peka dalam menangapi sindiran-sindiran seperti ‘sok rajin’ jika terlihat membaca di tempat publik. Memang, kadang-kadang kita bisa melihat para pelajar atau mahasiswa yang membaca buku di bis kota  dalam perjalanan ke sekolah atau kampus. Tapi biasanya hal itu dilakukan pada saat musim ujian, hanya untuk mengejar ketinggalan materi bacaan yang selama ini dilupakan. 

Sebagai contoh, para penggemar Harry Potter di Amerika dan Inggris datang berbondong-bondong beberapa jam, jauh sebelum waktu buku tersebut diluncurkan. Toko-toko buku dipenuhi oleh anak-anak, remaja, orang tua yang sangat berhasrat untuk segera mengetahui nasib penyihir cilik ciptaan JK Rowling tersebut. Dan ada juga orang tua yang mengizinkan anak-anak mereka bolos sekolah keesokan harinya hanya supaya si anak bisa membaca buku tersebut. Begitu antusiasnya anak-anak membaca buku tersebut, sehingga kita sampai mendengar adanya rumor “syndrome Harry Potter” melanda anak-anak di dunia.  

Sayang sekali, di negara kita ini, hanya segelintir orang saja yang menanggapi terbitnya buku ini dengan antusias, dibandingkan dengan populasi masyarakat Indonesia. Meskipun, buku ini dibilang sangat laris, tapi jika dibandingkan dengan jumpah populasi di Indonesia, paling-paling hanya segelintir orang saja yang mengetahui kapan tepatnya tanggal dan waktu terbit buku yang sudah menjadi best seller ini, bahkan sebelum buku tersebut selesai ditulis.

Tentunya hal ini mengundang pertanyaan bagi kita semua.  Mengapa anak-anak di negara maju memiliki minat baca yang lebih besar dibandingkan dengan anak-anak Indonesia? Jawabannya, adalah karena tradisi membaca sudah menjadi darah daging bagi anak-anak yang tinggal di negara maju. Mereka punya kebiasaan setiap minggu pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku, dan memberi target dalam satu bulan berapa banyak buku yang sudah mereka baca. 

Selain itu, banyaknya jumlah buku yang tersedia, dan dengan adanya perpustakaan dan book club   dimana-mana sehingga memudahkan anak-anak untuk memperoleh buku yang mereka inginkan. Bahkan, pada saat liburan musim panas, terdapat suatu camp yang diperuntukkan bagi anak-anak dengan fokus kegiatan  utama selama camp tersebut adalah membaca. 

Kondisi sebaliknya malah kita dapati di Indonesia. Perpustakaan sangat jarang, dan buku – buku yang disediakan juga tidak lengkap. Ada kalanya disaat seseorang sangat menginginkan sebuah buku, tetapi dia tidak dapat menemukannya dikarenakan terbatasnya jumlah buku tersebut. Hal ini membuat munculnya rasa enggan untuk  membaca, karena adanya bayangan buku tersebut tak akan mereka dapatkan. Faktor uang juga menjadi masalah. Tingginya harga buku di Indonesia mengakibatkan buku-buku hanya dapat dinikmati oleh orang-orang yang memiliki uang lebih. 

Keluarga juga memiliki pengaruh besar terhadap minat baca seorang anak. Seperti yang saya katakan diatas, faktor uang adalah masalah. Tetapi itu tidak sepenuhnya menjadi sebab utama rendahnya minat baca. Disekitar kita banyak kita jumpai anak orang-orang berada, dimana di kamarnya terdapat koleksi boneka Barbie yang sangat lengkap atau satu lemari penuh koleksi CD playstation, tetapi tidak mengetahui pengarang-pengarang buku anak terkenal seperti JK Rowling atau penulis legendaris Enid Blyton.

Kurangnya minat baca anak-anak dan remaja disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kurangnya daya beli dan kurangnya ketersediaan buku-buku bacaan umum serta pelajaran yang menarik untuk dibaca. Begitu juga, mereka lebih suka menonton TV, VCD, bermain game, atau menghabiskan waktu-waktu mereka dengan permainan atau kegiatan yang tidak bermanfaat, bukan membaca.

Beberapa faktor di atas, yakni faktor kemiskinan dan faktor kurangnya ketertarikan anak-anak dan remaja dengan buku, merupakan alasan utama agar masyarakat dan pemerintah harus bersikap lebih kritis terhadap masalah ini.

 Peran serta orang tua  sangat penting dalam membentuk karakteristik dan minat baca anak. Sebagai orang tua, kita tidak dapat mengharapkan anak-anak akan suka membaca jika kita sendiri  tidak pernah membuka buku sama sekali. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan para orang tua, guru, dan pemerintah untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca pada anak.

1.   Membiasakan memberi hadiah berupa materi bacaan seperti buku dan majalah. Hal ini tentunya lebih baik ketimbang memberi hadiah game, atau mainan lainnya kepada anak jika mereka membuat suatu prestasi.
2.      Biasakan untuk mengunjungi toko buku  dan perpustakaan setidaknya sebulan sekali.
3.      Sisihkan waktu untuk membaca setiap hari bersama keluarga, meskipun hanya 15 – 30 menit.
4.   Diskusikan apa-apa saja apa yang sudah dibaca anak-anak, dan berikan saran-saran terhadap apa-apa saja yang ingin mereka ketahui.
5.   Faktor yang cukup mendukung kurangya anak-anak dan remaja yang gemar membaca yakni kemiskinan. Banyak dari mereka yang tidak mampu membeli buku. Untuk itu, pemerintah harus menyediaan buku-buku gratis bagi mereka yang kurang mampu.
6.     Bagi para pendidik, buatlah suatu ajang perlombaan yang hadiahnya menarik, sehingga banyak yang ingin menjadi peserta. Lombanya bisa  berupa cerdas cermat, lomba mengarang, menulis puisi, atau apa saja. Setidaknya lomba itu dapat membuat kita harus belajar dan mencari informasi dari buku. 

Dengan beberapa cara tersebut, kita semua berharap sedikit demi sedikit minat untuk membaca akan timbul dengan sendirinya. Maka dari itu, sebagai generasi muda yang turut menentukan masa depan bangsa, maka mulailah dari sekarang untuk menikmati kegiatan membaca. Cobalah dengan mengunjungi toko buku setiap kali pergi ke mall. Kita juga meluangkan waktu duduk di perpustakaan. Memang tidak mudah untuk merubah suatu kebiasaan. Tetapi dengan usaha yang sungguh-sungguh, tidak ada hal yang tidak mungkin kita lakukan.


C.    Dampak yang Ditimbulkan Apabila Anak-Anak dan Remaja Malas Membaca

Membaca itu sebenarnya merupakan kebutuhan bagi siswa sekolah, baik SD, SLTP, SMA, atau Perguruan Tinggi. Untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah saja, mau tidak mau kita harus membaca. Apalagi kalau kita ingin menjadi siswa yang cerdas, kuncinya adalah dengan membaca. Sebenarnya rajin membaca itu sangat banyak manfaatnya. Tidak apalah kalau kita dijuluki dengan istilah “kutu buku”. Untuk itu, bagaimana pun caranya budaya membaca harus selalu ditanamkan dalam diri kita masing-masing. 

Apa jadinya negeri ini apabila generasi mudanya malas membaca? Tentu sangat berakibat untuk kita, baik sekarang, maupun waktu yang akan datang. Khusus di sekolah, kemalasan kita membaca buku akan sangat berdampak pada prestasi kita. Secara otomatis nilai kita akan jelek, karena setiap diberi tugas atau setiap ulangan kita kurang membaca sehingga tidak mampu menjawab semua tugas dan ulangan kita dengan benar. Tentu kita akan menjadi siswa yang paling buruk di kelas. Bagaimana perasaan orag tua kita melihat anaknya seperti itu. Mereka akan sangat kecewa. Sia-sialah pengorbanan mereka membanting tulang siang dan malam hanya untuk mencari uang agar kita dapat terus bersekolah. 

Di dalam kehidupan bermasyarakat, kita tentu harus sering-sering membaca apabila kita ingin mengetahui perkembangan zaman. Memang kita juga bisa memperoleh informasi dari televisi atau radio. Tapi seiring dengan era globalisasi, TV sudah tidak lagi sepenuhnya mendidik. Kebanyakan acara-acara yang ada seperti gossip selebriti, film kartun, sinetron, atau bahkan film-film yang tergolong negatif. Jadi hanya sedikit dari mereka yang menggunakan TV sebagai sarana informasi. Untuk itu lebih efisien dengan membaca buku.

Sebagai generasi penerus bangsa dan calon pemimpin negeri ini, kita harus memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas. Jika kita kurang membaca, maka kita akan ketinggala informasi-informasi baru. Kita mungkin saja dijuluki kuper, karena tidak mengetahui hal-hal apa saja yang telah terjadi dalam negeri atau bahkan seputar dunia. Bagaimana nasib negeri ini jika generasi mudanya seperti itu? Tentu negeri ini akan menjadi negeri yang terbelakang dalam bidang akademiknya. Bagaimana Negara ini bisa maju jika kondisinya terus seperti ini.

               
           

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Budaya membaca harus ditanamkan dan diperkenalkan sejak usia yang masih sangat dini.
2.  Beberapa faktor yang mempengaruhi kurangnya minat baca anak-anak dan remaja, yakni keterbatasan ekonomi dan banyaknya diantara mereka yang lebih senang menonton TV atau VCD. Dalam hal ini, Guru dan orang tua berperan untuk mengawasi mereka agar lebih rutin membaca. Sedangkan pemerintah dapat membantu dengan pemberian subsidi buku gratis.
3.      Kurangya minat membaca di kalangan anak-anak dan remaja akan berakibat buruk bagi  prestasi dan nilai-nilai mereka di sekolah.

B.     Saran
Berdasarkan simpulan di atas, dapat dikemukakan saran sebagai berikut:
1.      Orang tua harus menanamkan budaya membaca pada anak-anaknya mulai dari usia dini.
2.  Untuk mengatasi kurangya minat membaca, guru dan orang tua maupun pemerintah harus bekerjasama dalam mengawasi anak-anak dan remaja.
3.      Kita harus lebih giat membaca agar memperoleh nilai dan prestasi yang baik di sekolah.


DAFTAR PUSTAKA

Bambang Kaswanti, Purwo, 2000. Menumbuhkan Minat Sastra pada Anak dalam               
 Kajian Serba Linguistik. Jakarta: Atma Jaya dan Gunung Mulia.
Hidayat, Rahayu, 1989. Pengetesan Kemampuan Membaca Secara Komunikatif. Jakarta: Perpustakaan Nasional.
Http://novi080.student.umm.ac.id/2010/02/05/pentingnya-membaca/.
Nurhadi, 1987. Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: CV Sinar Baru.















Tidak ada komentar:

Posting Komentar